CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI
Pagi itu cuaca terlihat begitu cerah. Saya memulai perjalanan dari Kota Baubau menuju Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Pada pukul 07.30 Wita, saya berangkat menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Biasanya, perjalanan dari Baubau ke Pasarwajo memakan waktu sekitar satu jam. Kegiatan praktikum direncanakan dimulai pukul 09.00 Wita, sesuai jadwal dalam surat resmi yang telah kami kirimkan kepada Pemerintah Desa Banabungi dua hari sebelum pelaksanaan.
Saya sengaja berangkat lebih awal agar perjalanan lebih santai tanpa harus terburu-buru. Sepanjang jalan, saya menikmati pemandangan alam yang indah, udara yang segar, dan sesekali tetap berhati-hati dalam berkendara. Namun, ada satu pemandangan yang membuat saya terkejut. Di wilayah Kecamatan Sorawolio, pohon-pohon yang dulunya rindang kini tampak gundul akibat penebangan hutan yang cukup masif. Padahal, pada papan informasi tertulis jelas bahwa kawasan tersebut merupakan hutan negara.
Dulu saya berpikir bahwa wilayah tersebut adalah kawasan yang tidak boleh diganggu, tetapi faktanya kini pepohonan yang dulu rimbun tinggal kenangan. Entah apa alasan sehingga pohon-pohon di area tersebut dibabat habis, bahkan ada bekas pembakaran. Saya berhenti sejenak, mengambil beberapa foto kondisi hutan yang telah gundul itu sambil bergumam dalam hati, “Ah, ini belum terlambat…” Dahulu, tiap kali melewati kawasan hutan lindung ini, udara terasa adem dan sejuk. Bahkan saat matahari terik, pengendara tetap terlindungi oleh rimbunnya pepohonan dan semak belukar di kiri-kanan jalan. Setelah mengambil beberapa foto, saya melanjutkan perjalanan menuju Pasarwajo.
Sekitar pukul 08.40 Wita, saya tiba di Kantor Desa Banabungi. Jika dihitung dari waktu keberangkatan, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit artinya waktu perjalanan masih sesuai perkiraan. Di depan kantor desa, tampak dua mahasiswa yang baru tiba. Kami sempat berbincang sambil menunggu mahasiswa lainnya. Sebenarnya, saya ingin melakukan briefing sebelum kegiatan dimulai, namun tampaknya beberapa mahasiswa datang sedikit terlambat. Seperti biasa, sebelum acara dimulai saya ingin memastikan seluruh persiapan sudah benar-benar siap.
Tak lama kemudian, saya menanyakan keberadaan Kepala Desa, dan ternyata beliau sudah berada di dalam kantor. Saya pun masuk dan bertemu langsung dengan beliau di ruang tamu. Tidak lama setelah itu, hujan turun sekitar 15 menit sehingga kegiatan diperkirakan akan dimulai lewat dari pukul 09.00 karena harus menunggu seluruh mahasiswa berkumpul. Sambil menunggu, saya berbincang cukup lama dengan Kepala Desa.
Saat mendengar beliau berbicara dalam Bahasa Wolio dengan beberapa orang di dalam kantor, saya bertanya, “Setahu saya, di Pasarwajo ini lebih banyak masyarakat yang menggunakan Bahasa Cia-Cia. Mengapa setiap orang yang Bapak temui selalu menggunakan Bahasa Wolio?” Beliau tersenyum dan menjawab, “Memang di sini masyarakatnya sudah bercampur. Ada dari Buton Cia-Cia, Buton Wolio, bahkan ada juga yang berasal dari luar Buton seperti Jawa dan daerah lainnya. Jadi masyarakat di sini sudah majemuk atau heterogen.”
Sekitar pukul 09.30 Wita, saya dan Kepala Desa bergeser menuju Aula Kantor Desa untuk memulai acara. Ruangan aula berukuran sedang, mampu menampung sekitar 70 orang. Sebagian besar mahasiswa sudah berada di dalam ruangan. Beberapa mahasiswa juga terlihat sibuk menyiapkan konsumsi untuk dosen dan Kepala Desa, memasang spanduk kegiatan, serta melakukan pengecekan sound system agar acara berjalan lancar.
Pada pukul 09.40 Wita, acara akhirnya dimulai dipandu oleh Ibu Hariari Ihi. Kegiatan dibuka dengan pembacaan doa oleh saudara Hamdan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari dosen pembimbing lapangan, yaitu saya sendiri.
Mahasiswa semester V Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah mengikuti praktikum Mata Kuliah Administrasi Pemerintahan Desa di Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton pada hari Sabtu, 22 November 2025, mulai pukul 09.40 hingga 14.00 Wita. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 mahasiswa serta dua dosen, yaitu saya sendiri., dan Bapak Nurdin, S.Sos., M.A.P.
Sambutan saya sebagai dosen pengampu mata kuliah, menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Desa Banabungi beserta seluruh jajarannya yang telah menerima kami dengan sangat baik. Saya menjelaskan bahwa praktikum administrasi pemerintahan desa ini telah dilaksanakan tiga kali di lokasi yang berbeda: Desa Lampanairi (Kecamatan Batauga, Buton Selatan), Desa Kamama Mekar (Kecamatan Gu, Buton Selatan), dan saat ini di Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo.
Saya juga menyampaikan alasan mengapa Desa Banabungi dipilih sebagai lokasi praktikum. Desa ini pernah dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Nasional dengan daya tarik utama Kali Biru yang menjadi ikon wisata desa sekaligus ikon wisata Kecamatan Pasarwajo. Tempat ini diharapkan mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten hingga Pemerintah Pusat dalam hal pengembangan sarana prasarana dan tata kelola wisata.
Selain itu, Desa Banabungi memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Buton. Dahulu desa ini merupakan pelabuhan pengangkutan Aspal Buton dan jauh sebelumnya menjadi salah satu kadie dalam sistem Kesultanan Buton sehingga memiliki tradisi adat-istiadat yang semestinya terus dilestarikan. Desa ini juga memiliki sumber mata air yang dikelola oleh BUMDes dan memberikan layanan air bersih secara mandiri kepada masyarakat dengan biaya bulanan yang terjangkau. Banyak BUMDes yang saat ini sudah tidak berjalan karena usahanya tidak menghasilkan keuntungan, namun BUMDes Banabungi hingga kini masih aktif dan memberikan pelayanan maksimal bagi warga desa.
Kegiatan praktikum dibuka langsung oleh Kepala Desa Banabungi, Bapak La Ode Mursalim Patu. Dalam sambutannya beliau menyampaikan:
“Atas nama Pemerintah Desa Banabungi, kami menyambut baik kunjungan para mahasiswa. Seperti yang disampaikan oleh dosen pembimbing, Banabungi memiliki historis yang cukup panjang. Desa ini diapit oleh Kelurahan Kambula-Mbulana, berbatasan dengan Desa Laburunci, Teluk Pasarwajo, serta Desa Hendea Kabupaten Buton Selatan. Secara kewilayahan, Banabungi termasuk desa yang cukup luas.
Mengenai pesta adat yang baru saja diselenggarakan, yaitu Pesta Kampung Pasarwajo Kambula-Mbulana Takimpo, hal tersebut tidak lepas dari sejarah wilayah Banabungi yang dulunya merupakan bagian dari Kelurahan Pasarwajo. Namun setelah pemekaran, Banabungi resmi berdiri sebagai desa mandiri.
Pada masa kejayaan Aspal Buton, Banabungi pernah menjadi pusat industri aspal. Sayangnya, pengelolaannya tidak berkelanjutan sehingga banyak aset yang terbengkalai, mulai dari wilayah Kabungka hingga Banabungi. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah desa dalam menyusun program kerja, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan potensi aspal Buton.
Di sisi lain, beberapa fasilitas seperti gedung serbaguna, Lapangan Banabungi, Kali Biru, dan perumahan dinas eks perusahaan masih berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Daerah. Misalnya, pembangunan kawasan Kali Biru dilakukan oleh Pemda, bukan oleh desa, meskipun kami pernah memberikan kontribusi untuk memperbaiki kawasan tersebut yang sebelumnya tampak kumuh.
Saat ini, pemerintah desa memiliki beberapa program yang telah berjalan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Di antaranya pembangunan pemakaman umum, yang sebelumnya masih berada di desa lain. Kini kami telah memiliki pemakaman sendiri. Selain itu, BUMDes juga mengelola usaha penyediaan air bersih yang telah melayani sekitar 400 kepala keluarga. Biayanya terjangkau dan bahkan lebih murah dibandingkan PDAM Kabupaten Buton, karena kami memanfaatkan mata air sendiri serta peralatan yang kami adakan secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.”
Setelah sambutan dan pemaparan materi dari Kepala Desa Banabungi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Para mahasiswa terlihat sangat antusias mengajukan pertanyaan terkait inovasi pemerintahan desa.
Pertanyaan pertama disampaikan oleh Wa Ode Nita Emiria:
“Apakah Bapak dapat menceritakan secara singkat bagaimana kondisi pemerintahan Desa Banabungi sebelum adanya inovasi?”
Pertanyaan lain juga muncul:
“Apa saja dampak atau perubahan yang dirasakan masyarakat setelah inovasi diterapkan?”
Sementara itu, Rahim Raani menanyakan:
“Kontribusi apa yang diberikan oleh perusahaan aspal untuk masyarakat Desa Banabungi?”
Selain itu, masih banyak pertanyaan kritis lainnya yang sesuai dengan kondisi lapangan. Diskusi berlangsung cukup alot namun sangat terbuka, sehingga suasana pertemuan semakin hidup dan memberi semangat bagi mahasiswa dalam menggali informasi secara mendalam.
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan kunjungan ke beberapa lokasi inovasi desa. Kunjungan dimulai dari area mata air utama yang kini menjadi sumber air bersih bagi masyarakat Desa Banabungi. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari Kantor Desa. Air yang bersumber dari mata air tersebut masih sangat jernih karena diambil langsung tanpa proses pengeboran. Bahkan pada musim hujan, kejernihan air tidak mengalami perubahan signifikan seperti yang sering terjadi pada air PDAM.
Di lokasi mata air, pemerintah desa telah membangun penutup untuk menjaga sumber air agar tidak tercemar oleh aktivitas manusia maupun air hujan. Tidak jauh dari titik mata air, terdapat rumah mesin penyedot air yang berfungsi untuk menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Kepala Desa Banabungi menjelaskan bahwa pihaknya baru saja membeli mesin baru yang berpengaruh besar terhadap kelancaran distribusi air. Sebelum adanya mesin baru, aliran air sering mengalami kemacetan bahkan kerusakan. Dengan hadirnya mesin tersebut, pemerintah desa berharap layanan air bersih semakin optimal bagi seluruh warga.
Saat rombongan berada di lokasi tersebut, dua orang warga datang menemui Kepala Desa untuk membicarakan masalah pembebasan lahan yang rencananya akan digunakan sebagai akses jalan dari sumber mata air menuju jalan raya. Namun hingga saat ini, pembahasan terkait rencana pembukaan jalan tersebut masih belum menemukan kejelasan.
Selama kurang lebih satu jam, para mahasiswa berdiskusi dengan Kepala Desa, pengelola air, pengurus BUMDes, serta warga sekitar. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa lokasi rumah mesin penyedot air pernah dipindahkan. Pada lokasi sebelumnya, air sulit disedot dan dialirkan ke rumah warga. Karena itu, rumah mesin akhirnya dipindahkan lebih dekat ke titik mata air agar proses penarikan, penyaringan, dan pemompaan air menjadi lebih efektif.
Sebelum meninggalkan lokasi, hujan turun cukup deras sehingga rombongan harus berteduh di rumah mesin penyedot air selama sekitar 10 menit. Setelah hujan reda, perjalanan kembali dilanjutkan. Sekitar pukul 12.00 Wita, rombongan beristirahat dan makan siang di Warung Bakso Mombaka Bunda Lia yang beralamat di Jalan Ama Hatibi, Desa Laburunci, Kecamatan Pasarwajo. Di tempat tersebut, saya bersama Pak Nurdin dan Kepala Desa diajak makan bersama oleh para mahasiswa. Suasana rumah makan tampak ramai dengan pengunjung yang hampir memenuhi seluruh tempat duduk.
Kami disajikan nasi, ayam goreng, kuah, dan sambal sebanyak tiga porsi. Para mahasiswa dengan sukarela mentraktir makan siang, padahal sebelumnya telah disampaikan agar masing-masing menyiapkan biaya makan sendiri. Tentu kami merasa sangat bersyukur dan menghargai kebaikan mereka. Seluruh mahasiswa juga ikut makan bersama sehingga suasana terasa akrab, hangat, dan menyenangkan.
Setelah menikmati makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju Kali Biru, salah satu kebanggaan masyarakat Desa Banabungi. Lokasinya berada di kawasan pantai, tidak jauh dari area perusahaan aspal. Kali Biru sebelumnya telah dibangun melalui dukungan anggaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Buton, dan Pemerintah Desa Banabungi. Namun, berdasarkan hasil pengamatan lapangan, pengelolaan kawasan ini masih belum optimal. Masih terlihat beberapa bangunan kumuh yang seharusnya sudah dirapikan. Selain itu, status pengelolaan Kali Biru belum memiliki kejelasan apakah berada di bawah kewenangan pemerintah daerah, perusahaan, atau pemerintah desa. Ketidakjelasan inilah yang menjadi salah satu penyebab terhentinya proses pembangunan atau revitalisasi lanjutan.
Kami berada di Kali Biru bersama Kepala Desa, yang dengan setia mendampingi kami sejak pagi. Beliau mendampingi hampir di seluruh rangkaian kegiatan: sekitar dua jam di kantor desa, satu jam di sumber mata air, tiga puluh menit di rumah makan, dan sekitar satu jam di area Kali Biru. Di lokasi ini, banyak hal yang kami diskusikan. Kepala Desa memberikan informasi mulai dari sejarah Kali Biru, tantangan pembangunan, kontribusi pemerintah desa dalam merawat kawasan kali, hingga harapan-harapannya untuk mendorong revitalisasi agar kelak Kali Biru dapat menjadi salah satu ikon pariwisata Kabupaten Buton.
Pada akhir kegiatan, seluruh mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, dan Kepala Desa kembali berkumpul di area Kali Biru. Dalam kesempatan itu, Kepala Desa menyampaikan harapannya kepada Universitas Muslim Buton untuk dapat turut serta mendukung pengembangan Kali Biru ke depannya. Beliau juga berharap Pemerintah Kabupaten Buton dapat mengambil peran strategis dalam mengelola potensi besar kawasan tersebut. Selain itu, ia menyampaikan pentingnya kontribusi pemerintah desa dalam pengembangan kawasan wisata agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal.
Sebagai dosen pembimbing lapangan, saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa yang telah mendampingi kegiatan sejak pagi hingga menjelang sore. Saya turut memberikan pandangan mengenai pentingnya membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Buton agar dapat lebih berkonsentrasi memperhatikan serta melanjutkan pembangunan Kali Biru sehingga pengembangannya dapat berjalan semakin baik.
Sekitar pukul 14.15 Wita, saya berpamitan kepada Kepala Desa. Para mahasiswa juga bersalaman dan membubarkan diri, sebelum akhirnya meninggalkan lokasi kegiatan. Dalam perjalanan pulang, saya merasa sangat puas dengan hasil kerja praktikum lapangan hari itu. Banyak informasi penting terkait inovasi pemerintahan desa yang kami peroleh, ditambah kesempatan mengunjungi beberapa lokasi strategis yang memiliki peran besar bagi masyarakat Desa Banabungi, Alhamdulillah tiba di Kota Baubau sekitar pukul 15.20 Wita. Selesai.














Komentar
Posting Komentar