JEBAKAN SKEMA PONZI

 

Semuanya selalu dimulai dengan janji manis.

Modal kembali cepat.

Keuntungan besar.

Tanpa resiko. 

Sekali tarik, bisa langsung jutaan bahkan puluhan juta rupiah. 

Di tahap awal, tidak ada drama. Tidak ada kecurigaan.

Justru sebaliknya yaitu “Semuanya Terlihat Sempurna”.

Inilah pintu masuk jebakan skema Ponzi.

Sistem sengaja dirancang agar terbukti membayar, seolah-olah keuntungan itu pasti. Bukan untuk menipu sejak awal, melainkan untuk menyalakan hormon dopamin di otak pemain yaitu hormon yang memicu rasa senang, puas, dan ketagihan terus menerus.

Pada fase ini, pemain lapis pertama benar-benar merasakan hasilnya.

Modal kembali.

Saldo bertambah.

Keyakinan tumbuh. 

Mereka mulai percaya: “Ini bukan kebetulan.”

Mereka yakin: “Sistemnya memang bekerja dengan aman.”

Pelan-pelan, fokus pun bergeser.

Bukan lagi soal risiko.

Bukan lagi soal keamanan.

Melainkan soal seberapa besar keuntungan berikutnya. 

Di titik inilah manipulasi psikologis mulai mengambil alih.

Rasa waspada menurun.

Logika melemah.

Yang tersisa hanyalah dorongan untuk terus bermain.

Saya ulangi lagi “YANG TERSISA HANYALAH DORONGAN UNTUK TERUS BERMAIN”.

Mereka yang sudah untung tidak merasa sedang diperalat. Justru sebaliknya mereka merasa menemukan peluang emas. Tanpa diminta, mereka berubah menjadi promotor awal. Mereka memamerkan bukti penarikan, kendaraan yang dibeli, gaya hidup yang naik kelas. Semua itu menjadi iklan paling meyakinkan bagi calon pemain berikutnya. 

Pemain lapis kedua pun masuk.

Testimoni menyebar ke mana-mana.

Media sosial.

Grup percakapan.

Pertemuan langsung, seminar, hingga jumpa prospek. 

Pesannya selalu sama, sederhana, dan mematikan:

“INI TERBUKTI MEMBAYAR DAN UNTUNG BESAR.”

Lalu muncul pertanyaan krusial:

Apakah skema Ponzi runtuh di pemain lapis kedua? Jawabannya TIDAK. 

Justru di fase ini, pemain lapis pertama dan kedua masih terus dimanjakan. Bonus mengalir dan keuntungan tetap dibagikan. Tujuannya satu yaitu memperkuat kepercayaan massal, semakin banyak orang percaya, semakin besar dana yang masuk.

Secara psikologis, otak manusia bekerja dengan pola yang sangat sederhana: 

Satu testimoni (masih ragu).

Dua testimoni (mulai percaya).

Puluhan testimoni (keyakinan penuh).

Pada tahap ini, pemain lapis pertama, kedua, bahkan ketiga mulai lupa bahwa mereka berada di dalam sebuah jebakan. Dopamin sudah bekerja. Ketagihan sudah terbentuk. Pikiran dipenuhi bayangan untung besar tanpa risiko, seolah cukup duduk santai, maka saldo akan terus bertambah dengan sendirinya. 

Hari demi hari, pengikut semakin banyak.

Investasi yang awalnya hanya jutaan rupiah per orang berubah menjadi puluhan bahkan ratusan juta. Jika dikumpulkan, dana yang masuk ke dalam sistem mencapai miliaran hingga puluhan miliar rupiah.

Namun, ingat baik-baik bagian ini. JUSTRU DI TITIK INILAH AKHIR CERITA DIMULAI. 

Ketika arus dana baru melambat, atau ketika pengelola menarik dana dalam jumlah besar, skema Ponzi runtuh tanpa peringatan. Sistem menghilang. Penarikan macet. Saldo membeku dan uang miliaran rupiah lenyap tanpa jejak dan tanpa pengembalian.

Ironisnya, pembuat sistem yang mungkin hanya bermodal awal sekitar seratus juta rupiah, justru berhasil mengantongi keuntungan hingga puluhan miliar rupiah. 

Terlihat ajaib? Tidak.

Inilah mekanisme klasik skema Ponzi.

Bukan keajaiban ekonomi, melainkan eksploitasi kepercayaan dan psikologi manusia yang dibungkus rapi, dipoles janji manis, dan dijalankan dengan sangat manipulatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI