TIM SUKSES YANG TIDAK SUKSES



TIM SUKSES YANG TIDAK SUKSES
* Darmin Hasirun*

Pemilihan Kepala Daerah akan segera tiba, tepatnya pada tanggal 15 Februari 2017 masyarakat di beberapa daerah yang menyelenggarakan pesta demokrasi akan menentukan pilihannya, siapakah yang akan mereka amanahkan untuk memimpin daerah selama 5 tahun ke depan? Pilihan masyarakat ini tentu sedikit banyak dipengaruhi oleh kerja tim sukses yang telah dibentuk oleh para calon kepala daerah.

Tugas utama tim sukses adalah untuk memenangkan pasangan calon kepala daerah dan wakilnya, oleh karena itu mereka sering disebut “Tim Sukses” yang akan mensukseskan tujuan dari jagoannya masing-masing. Tidak jarang kita menemukan anggota tim tidak bekerja ekstra menyelesaikan misinya disebabkan kurangnya dukungan (support) dari kandidat atau memang etos kerja tim yang rendah. Banyak pula calon kepala daerah yang mendapatkan kemenangan dikarenakan manajemen tim yang terorganisir dengan baik sehingga segala aspek kelemahan dan kelebihan kandidat dikemas dengan indah dan menarik.
Berikut ini saya akan mengulas beberapa faktor yang menyebabkan “tim sukses yang tidak sukses” melaksanakan misinya antara lain:

1.        Kurap (KURang kompAK)
Tim sukses pada dasarnya mempunyai kerja secara kolektif atau bersama-sama, antara anggota satu dengan anggota lainnya saling menunjang kerja masing-masing sehingga arah dan gerakannya sama, tetapi ternyata banyak pula anggota tim yang tidak kompak disebabkan sifat egoisme dan merasa lebih pintar dari orang lain sehingga menjadi kelemahan bagi kandidat dalam mewujudkan kebersamaan anggota tim dan sekaligus sebagai cela bagi lawan untuk melakukan perlawanan / penyerangan dengan menggunakan isu-isu yang menjatuhkan kandidat tersebut.

2.        Muak (Motif UAng dan proyeK)
Setiap manusia pasti mempunyai niatan dalam hidupnya, begitupula dengan para tim yang tidak jauh dengan niatan hidup tersebut. Niatan inilah yang membentuk motif anggota tim melakukan sesuatu. Oleh karena itu para kandidat selalu membekali ilmu pengetahuan kepada anggota timnya agar bisa menyatukan langkah dan tujuan sesuai dengan yang dicita-citakan, tetapi namanya “motif” memang kadangkala susah ditebak, bisa jadi dia berpura-pura baik kepada kandidatnya dengan membawa berita baik terus menerus, asal bos senang dengan motivasi untuk mendapatkan tambahan anggaran operasional di lapangan atau iming-iming mendapatkan proyek jikalau calonnya menang, akhirnya mereka hanya bisa bekerja baik jikalau ada uang, ditambah lagi janji-janji mendapatkan paket proyek untuk menambah pundi-pundi keuangannya. Mereka yang hanya mempunyai motivasi uang dan proyek inilah bisa berpotensi menggagalkan tujuan mendapatkan kursi nomor satu di daerah artinya tidak ada niatan ikhlas untuk kemajuan daerahnya karena semata-mata perjuangannya ingin mengisi perutnya sendiri. Tipikal tim seperti ini juga sangatlah mudah “dibodohi pakai uang atau proyek” agar bersemangat menjalankan misinya memenangkan ambisi kandidat tersebut.

3.        Tipu (TIm PosU)
Saya sengaja menulis point ketiga ini dengan memakai bahasa daerah, “Tim-Posu” berasal dari bahasa Wolio yang artinya binatang kadal. Binatang ini pada dasarnya cukup ditakuti oleh banyak kalangan masyarakat karena kadang menyerang manusia, sifatnya yang rakus dan menakutkan ini sering dianalogikan pada kerja Tim yang hanya menguras uang para kandidat tanpa membawa keuntungan besar, mereka menjadi parasit dalam tim yang bekerja jikalau ada uang begitupula sebaliknya, oleh karena itu sifatnya ini sering didapatkan pada kandidat yang mempunyai banyak uang, royal dan suka menaruh kepercayaan pada kerja tim. Alhasil yang awalnya sudah berangan-angan menjadi pemenang, malah timnya sendiri yang menjebaknya alias menghabiskan uang kandidat tersebut.

4.        Kudis (Kurang Diskusi)
Kata “Kudis” di atas bukanlah jenis penyakit kulit tetapi singkatan dari “Kurang Diskusi”, kelemahan ini kadang didapatkan pada tim yang hanya sibuk mengurus urusannya sendiri tanpa membagi informasi dengan tim lainnya sehingga komando dan tujuan tidak satu arah antara keinginan kandidat dengan anggota tim, kurang dikusi juga mempengaruhi kekompakan tim yang dapat mengancam terjadi miskomunikasi dan mispersepsi dalam internal tim dan  mudah disusupi oleh calonnya lain sehingga rentan timbulnya konflik internal dalam kubu tersebut, diskusi juga menjadi wadah saling berbagi pengetahuan tentang perkembangan daerah dan isu-isu yang beredar di masyarakat, maka berhati-hatilah jikalau tim mengalami Kudis yang bisa berpotensi menggagalkan pencapaian misi dari tim tersebut.

5.        Kuper (Kurang Pengetahuan Rasional)
Musim Pilkada kadang menjadi ajang mencari dukun atau sesuatu yang bersifat mistis, ramalan, prediksi irrasional dari Lembaga Survey Iblis (LSI) bahkan tidak jarang kita menemukan para tim dan kandidat berbondong-bondong berziarah ke makam atau kuburan untuk mendapatkan wangsit/petunjuk dari roh-roh makam tersebut, kebiasaan ini banyak kita temukan pada daerah yang masih kuat mempercayai ilmu-ilmu paranormal yang diyakini dapat mendatangkan hoki bagi para kandidat. Bermalam di kuburan, batu, atau pohon yang dianggap sakral oleh masyarakat desa tersebut bukanlah pekerjaan susah karena demi memuluskan tujuan kandidat, mereka harus rela menghabiskan waktunya melakukan pesugihan meminta bantuan jin, setan, iblis, dan lain-lain. Cara-cara seperti inilah akan membutakan akal sehat para tim yang terlalu mempercayai petunjuk yang tidak jelas asal usulnya bahkan dilarang oleh agama. Disamping itu KUPER juga mudah “dibohongi pakai pendekatan emosional” yang bisa jadi para tim hanya merasa dekat dengan kandidatnya tanpa mempunyai ilmu pengetahuan mendalam tentang program kerja, visi misi dan rencana pembangunan bagi daerah yang akan dilakukan oleh kandidat tersebut jikalau menjadi kepala daerah.

Catatan, Hari Selasa tanggal 6 Desember 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI