MANUVER POLITIK MEGAWATI DAN PRABOWO


Darmin Hasirun

Pertemuan antara Megawati dan Prabowo Subianto beberapa kali pasca putusan sidang Mahkamah Konstitusi RI atas sengketa hasil PEMILU telah membuka lembaran baru atas kondisi politik tanah air, bukan hal aneh dalam pertemuan antar elit politik membahas kondisi bangsa karena sudah menjadi budaya yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia politik Indonesia. Secara etika tentu pertemuan tersebut adalah keharusan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di dalam bingkai NKRI karena menjadi keharusan bagi elit partai untuk mewujudkan cita- cita negara yang damai dan bermartabat.

Pada pertemuan pertama berlangsung di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Nomor 27, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat pada Hari Rabu tanggal 24 Juli 2019 sekitar pukul 10.30 WIB. Keduanya sempat mengobrol empat mata dan menyantap beraneka hidangan, dari bakwan jagung hingga nasi goreng. Penulis memaknai bahwa bentuk jamuan yang disiapkan oleh Megawati merupakan simbol konsolidasi yang merekatkan perbedaan diantara keduanya, berbagai hidangan makanan adalah sarana yang menyejukan suasana politik yang selama ini digoreng dengan berbagai macam isu murahan dan memicu emosi tinggi diantara kedua kubu. Boleh pula dimaknai sebagai nostalgia dua sahabat yang selama ini dipisahkan oleh berbedaan pilihan politik, bisa juga diartikan bahwa Megawati mempunyai hobi memasak, tentu menyalurkan hobi tidaklah menguras tenaga dan pikiran untuk menyatukan perbedaan tersebut.

Pertemuan kedua terjadi saat Kongres ke-V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dilaksanakan di Hotel Grand Inna Bali Beach, pada Kamis tanggal 8 Agustus 2019. Pertemuan inilah yang cukup banyak memberikan kisi-kisi jawaban atas ramalan politik “bagi-bagi kursi menteri” yang akan ditujukan kepada partai pengusung PASLON Jokowi dan Ma’ruf Amin, ada pula guyonan Mba Megawati tentang Duet Sahabat dalam kanca politik kekuasaan di tahun 2024, tentu kedatangan Prabowo pada kegiatan kongres PDIP adalah bentuk dukungan politik terhadap partai penguasa, boleh pula diartikan bahwa Partai Gerindra akan merapat di dalam Kubu Pemenang PEMILU 2019. Tetapi lagi-lagi dugaan-dugaan ini selalu dibantah oleh elit-elit Partai Gerindra bahwa partainya belum menentukan sikap. Memang secara kelembagaan belum ada keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Partai Gerindra tetapi secara psikologi politik ada indikasi bahwa Prabowo akan merapat dalam kubu pemerintahan, tentu semua itu bukan tanpa tujuan karena didalam politik “tidak ada makan siang gratis”. Semua itu pasti ada transaksasi politik “siapa dapat apa, dimana, kapan dan bagaimana?”. Bisa jadi sederet pertemuan tersebut menyimpan pesan bahwa kekuatan (poros) baru akan muncul dengan memunculkan poros lainnya yang menciptakan pro kontra.

Sebelum pertemuan kedua tokoh besar tersebut diadakan, sudah ada perjumpaan antara Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, hari Sabtu pada tanggal 13 Juli 2019. Pertemuan ini tidak lain bertujuan untuk mendinginkan suasana politik yang cukup panas di tanah air, sekaligus sebagai pintu masuk pembahasan rencana pertemuannya dengan Megawati. Alhasil ternyata harapan tersebut tercapai juga.

Pemandangan yang sangat menarik saat pertemuan Megawati dan Prabowo tersebut seakan membuka memori lama 10 tahun yang lalu mengenai koalisi / duet bersama saat pemilihan Presiden RI tahun 2009, dimana Paslon Megawati dan Prabowo bersama-sama menjadi pasangan yang sangat diperhitungkan untuk mengalahkan Paslon SBY dan Boediono. Meskipun nasib baik belum berpihak kepada Megawati dan Prabowo, tetapi kedekatan dan persahabatan mereka masih melekat kuat.
Ada banyak asumsi /isu yang ditujukan kepada kedua tokoh besar ini, salah satunya adalah masalah kursi jabatan, mencari aman, dan mendapatkan dukungan saat PEMILU 2024 nanti, tetapi semua isu tersebut boleh jadi benar atau salah total karena sikap politik Prabowo yang sudah dikenal Negarawan diharapkan jauh dari tujuan sesaat saja, selain dari menjaga NKRI agar tetap aman, maju dan sejahtera kedepannya, juga menurunkan tensi politik yang sudah berada di puncak ketegangan dan perang urat syaraf. Tentu hipotesis yang ditujukan kepada mereka sangatlah dini untuk disimpulkan bahwa ada tujuan sesaat yang ingin mereka dapatkan atau mewujudkan visi kejayaan Indonesia.

Beredar kabar burung bahwa Prabowo Subianto yang digadang-gadang berada di barisan oposisi sudah mulai diragukan setelah adegan pertemuan dengan pihak-pihak kubu Jokowi & Ma’ruf Amin, boleh jadi opisisi yang digaungkan adalah oposisi pepesan kosong yang bersifat semu tanpa tujuan yang jelas karena banyak pihak yang tidak suka dengan Jokowi dan PDIP merasa dikhianati oleh sikap Prabowo yang melunak kepada pihak lawan. Tetapi bukan namanya “Politik” kalau tidak ada istilah “dalam perebutan kekuasaan, tidak ada kawan dan lawan yang abadi karena yang abadi adalah kepentingan”. Tentu kata “kepentingan” disini bukanlah kepentingan pribadi atau golongan tetapi kepentingan bangsa dan negara karena siapapun yang berkhianat dan berencana merusak tatanan sistem ketatanegaraan adalah menjadi musuh bersama sedangkan siapapun yang ingin mewujudkan tujuan negara, maka dialah kawan dalam politik.

Sikap kepemimpinan politik Prabowo yang nasionalis telah mengubah peta kekuatan politik begitu cepat sehingga dapat mengubur polarisasi yang selama ini cukup tajam dipertontonkan di hadapan publik, tidak ada lagi kubu 01 dan kubu 02 karena yang ada hanyalah sila ke-3 persatuan Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri manuver politik kedua tokoh besar di atas telah membuka tabir kemenangan sejati rakyat Indonesia yaitu Persatuan atas dasar kedamaian negara, penulis berharap perjumpaan mereka bukanlah bermotif bagi-bagi jabatan menteri atau rencana pembagian proyek nasional, tetapi semata-mata demi kepentingan negara karena seorang negarawan meletakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongannya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI