MAHASISWA HARUS DIBIMBING, BUKAN DIDOKTRIN
Saya meyakini bahwa ruang kelas bukanlah tempat untuk mendoktrin mahasiswa dengan kekuasaan dosen, apalagi membungkam mereka melalui ancaman atau intimidasi. Kelas seharusnya menjadi ruang akademik yang membebaskan, tempat setiap mahasiswa memiliki keberanian untuk berpikir, bertanya, mengkritik, dan menyampaikan pendapatnya secara bertanggung jawab.
Saya tidak mengharapkan mahasiswa menjadi peniru pikiran dosennya. Sebaliknya, saya berharap mereka berani tampil berbeda, berani menyampaikan pandangan yang tidak sejalan dengan dosen, bahkan jika perlu berseberangan dengan pandangan dosennya, selama argumentasi yang dibangun didasarkan pada data, teori, logika, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam dunia akademik, perbedaan pendapat bukanlah ancaman, melainkan sumber lahirnya pengetahuan baru.
Seorang dosen bukanlah pemilik kebenaran mutlak. Dosen adalah fasilitator, pembimbing, sekaligus mitra intelektual yang membantu mahasiswa menemukan cara berpikir yang benar. Oleh karena itu, tugas dosen bukan membentuk mahasiswa agar selalu sepakat dengannya, melainkan membentuk mereka agar mampu berpikir secara kritis, rasional, dan mandiri.
Apabila mahasiswa masih pasif, maka tugas dosen adalah mengaktifkan mereka melalui pendekatan yang mendorong rasa ingin tahu, keberanian, dan kepercayaan diri. Sebaliknya, ketika mahasiswa telah aktif, janganlah mereka dikucilkan atau dibatasi hanya karena pendapatnya berbeda. Kekuasaan dosen tidak boleh menjadi alat untuk membatasi kebebasan berpikir mahasiswa.
Yang harus menjadi batas dalam dunia akademik bukanlah otoritas seseorang, melainkan nalar yang sehat, logika yang benar, metodologi ilmiah, etika akademik, dan bukti yang dapat diuji. Mahasiswa tidak perlu takut berbeda pendapat, tetapi mereka harus belajar mempertanggungjawabkan setiap pendapatnya secara ilmiah.
Saya berharap mahasiswa tumbuh di bawah bimbingan dosen-dosen yang membebaskan, bukan yang memenjarakan pikirannya; dosen yang menginspirasi, bukan yang mendominasi; dosen yang membuka cakrawala berpikir, bukan yang menutup ruang dialog. Sebab tujuan akhir pendidikan tinggi bukanlah menghasilkan lulusan yang pandai menghafal pendapat dosennya, melainkan melahirkan insan akademik yang mampu berpikir merdeka, berintegritas, berani mencari kebenaran, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Universitas yang sehat bukanlah universitas yang dipenuhi oleh mahasiswa yang selalu mengatakan "ya" kepada dosennya, melainkan universitas yang dihuni oleh sivitas akademika yang mampu berdialog secara kritis, saling menghormati dalam perbedaan, dan bersama-sama mencari kebenaran melalui argumentasi ilmiah.

Komentar
Posting Komentar