HARI PERTAMA BAKTI SOSIAL DI DESA KAPOA

 

Menyeberang untuk Mengabdi, Pulang Membawa Cerita

 

Ada perjalanan yang sekadar membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ada pula perjalanan yang sejak langkah pertama telah membawa sebuah niat yaitu datang untuk mengabdi, hadir untuk belajar, dan pulang dengan membawa cerita.

 

Perjalanan itu dimulai Jumat pagi, 14 Agustus 2026.

 

Sejak pukul 09.30 Wita, sebanyak 13 orang yang terdiri atas empat dosen dan sembilan mahasiswa Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton (UMU Buton) telah berkumpul di Pelabuhan Topa, Kota Baubau. Di hadapan mereka terbentang laut yang akan diseberangi menuju Desa Kapoa, Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Selatan. Tempat selama tiga hari ke depan mereka akan melaksanakan kegiatan Bakti Sosial.

 

Pelabuhan pagi itu menjadi titik awal sebuah perjalanan yang tidak hanya berkaitan dengan jarak, tetapi juga tentang perjumpaan dengan masyarakat.

 

Sambil menunggu katinting yang akan membawa mereka ke Pulau Kadatua, beberapa mahasiswa tampak asyik berbincang. Ada yang berdiskusi mengenai agenda kegiatan, ada pula yang sekadar bercanda dan menikmati suasana sebelum perjalanan dimulai. Di sisi lain, para dosen tampak lebih sibuk. Telepon silih berganti dilakukan untuk memastikan berbagai kebutuhan telah dipersiapkan dan komunikasi dengan masyarakat di Desa Kapoa berjalan dengan baik.

 

Semua terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada semangat yang sama: tiga hari harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk hadir bersama masyarakat.

 

Laut Membuka Perjalanan

 

Sekitar pukul 11.00 Wita, katinting akhirnya datang. Rombongan pun bersiap. Satu per satu menaiki perahu, mencari posisi duduk yang nyaman, kemudian memastikan barang bawaan berada di tempat yang aman.




Mesin katinting mulai menyala.

 

Perlahan perahu meninggalkan Pelabuhan Topa. Kota Baubau semakin menjauh, sementara Pulau Kadatua perlahan tampak di hadapan.

 

Perjalanan laut hanya sekitar 20 menit. Namun, waktu yang singkat itu terasa seperti sebuah jeda—jeda untuk meninggalkan kesibukan kampus dan memasuki suasana pengabdian yang sesungguhnya.

 

Angin laut menerpa wajah. Riak air bergerak mengikuti laju katinting. Di tengah perjalanan itu, mungkin tidak banyak yang berbicara. Sebagian menikmati pemandangan, sebagian memikirkan agenda yang akan dilakukan, dan sebagian lainnya mungkin mulai membayangkan seperti apa kehidupan masyarakat yang akan mereka temui.


Hingga akhirnya, katinting memasuki perairan Kapoa.

 

Rombongan tiba di Pelabuhan Kapoa.

 

Di tempat inilah perjalanan darat dimulai.

 

Seorang ibu warga setempat telah menunggu dan dengan ramah membantu mengantar rombongan menuju tempat menginap. Dari pelabuhan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Langkah demi langkah membawa rombongan semakin dekat dengan rumah yang akan menjadi posko selama berada di Desa Kapoa.

 

Rumah Kosong dan Pelajaran Pertama tentang Gotong Royong

 

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11.30 Wita.

 

Dari sekitar perkampungan terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suara itu menjadi pengingat bahwa waktu salat Jumat semakin dekat. Rombongan mempercepat langkah menuju tempat menginap agar dapat segera mempersiapkan diri.

 

Sesampainya di rumah, rombongan baru menyadari bahwa tempat tersebut masih jauh dari kondisi ideal.

 

Rumah itu merupakan rumah kosong yang sementara ditinggalkan pemiliknya. Berdasarkan informasi warga, pemilik rumah sedang berada di Samlaki. Beberapa fasilitas belum tersedia atau belum dapat digunakan.

 

Kompor belum siap digunakan karena bahan bakarnya kosong dan bagian pemutar sumbunya macet. Kuali dan tempat menanak nasi belum tersedia. Air tidak mengalir sebagaimana mestinya. WC dan kamar mandi pun masih terlihat kotor.

 

Sejenak, kondisi itu mungkin membuat siapa pun berpikir bahwa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

 

Tetapi tidak ada yang memilih untuk mengeluh.

 

Mahasiswa mulai bergerak. Dosen ikut turun tangan. Rumah dibersihkan, barang-barang ditata, aliran air diperiksa dan diperbaiki. Dan yang paling mengesankan, sejumlah ibu-ibu masyarakat setempat datang membantu.

 

Di sinilah suasana pengabdian mulai terasa.

 

Tidak ada sekat antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat.

 

Tidak ada yang bertanya siapa yang paling bertanggung jawab.

 

Semua bekerja.

 

Yang bisa membersihkan, membersihkan. Yang bisa memperbaiki, memperbaiki. Yang memiliki pengalaman membantu urusan dapur, ikut membantu menyiapkan makanan.

 

Hanya sekitar 30 menit, rumah yang semula tampak belum siap ditempati berubah menjadi jauh lebih bersih dan tertata.

 

Namun, yang sebenarnya sedang dibangun bukan hanya sebuah tempat tinggal sementara.

 

Yang sedang dibangun adalah kebersamaan.

 

Salat Jumat di Tengah Teduhnya Kapoa

 

Setelah rumah cukup tertata, rombongan segera menuju masjid.

 

Jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki.

 

Matahari siang terasa menyengat. Keringat mulai terasa di tubuh. Namun, begitu sampai di kawasan masjid, suasananya berubah.

 

Masjid berdiri di kawasan yang lebih tinggi, dikelilingi pepohonan rindang. Angin terasa lebih sejuk. Suasana menjadi teduh.

 

Ada satu hal lain yang menarik perhatian: air untuk berwudu.

 

Airnya jernih, tawar, dan terasa segar.

 

Bagi mereka yang pernah berada di sejumlah wilayah pesisir Kadatua, pengalaman tersebut terasa istimewa. Air di kawasan pesisir sering kali terasa asin. Tetapi hari itu, air tawar yang jernih seolah menjadi hadiah kecil setelah perjalanan panjang sejak pagi.

 

Rombongan kemudian mengambil air wudu, masuk ke masjid, mendengarkan khutbah Jumat, dan melaksanakan salat Jumat secara berjamaah.

 

Di tengah perjalanan pengabdian, ada waktu untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengingat bahwa setiap langkah yang dilakukan semestinya tetap berangkat dari niat yang baik.

 

Sekitar 30 menit kemudian, rombongan kembali berjalan menuju posko.

 

Ketika Mie Goreng dan Ikan Parende Terasa Seperti Hidangan Istimewa

 

Hari telah memasuki sekitar pukul 13.00 Wita.

 

Matahari semakin terik. Tenggorokan terasa kering. Perut pun mulai memberi tanda bahwa perjalanan sejak pagi membutuhkan tenaga baru.

 

Rombongan mempercepat langkah menuju penginapan.

 

Sesampainya di posko, ternyata makan siang belum sepenuhnya siap.

 

Tidak ada pilihan selain kembali bergerak.

 

Yang sebelumnya membantu membersihkan rumah, kini ikut membantu menyiapkan makanan. Dapur kembali menjadi pusat aktivitas. Semua dilakukan dengan semangat yang sama.

 

Sekitar pukul 13.30 Wita, makanan akhirnya tersaji.

 

Nasi, mie goreng, dan ikan parende.

 

Sederhana.

 

Tetapi setelah berjalan kaki di bawah terik matahari, membersihkan rumah, memperbaiki fasilitas, dan melaksanakan salat Jumat, hidangan itu terasa luar biasa nikmat.

 

“Nyam... nyam... nyam. Enak sekali!”

 

Kalimat sederhana itu mungkin menjadi gambaran paling jujur tentang suasana makan siang hari itu.

 

Bukan karena makanan tersebut mahal.

 

Bukan pula karena hidangannya mewah.

 

Tetapi karena makanan itu hadir setelah perjuangan kecil yang dilakukan bersama-sama.

 

Di meja makan sederhana itu, rasa lapar berubah menjadi syukur. Dan makanan sederhana berubah menjadi bagian dari cerita yang mungkin akan dikenang lebih lama daripada makanan mahal yang pernah disantap di tempat lain.

 

Duduk Bersama Kepala Desa, Menyusun Dua Hari Berikutnya

 

Usai makan siang sekitar 30 menit, rombongan kembali melanjutkan agenda.

 

Kali ini, mereka menuju rumah Kepala Desa Kapoa.

 

Tujuannya jelas: memastikan agenda kegiatan selama Sabtu dan Minggu dapat berjalan sesuai rencana sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat.

 

Perjalanan menuju rumah Kepala Desa tidak jauh dari posko dan ditempuh dengan berjalan kaki.

 

Sesampainya di sana, Kepala Desa ternyata sedang keluar untuk mengurus kandang ayam potong. Rombongan menunggu dengan santai. Tidak lama kemudian, beliau datang dan menyambut rombongan dengan hangat.

 

Pertemuan berlangsung kurang lebih satu jam.

 

Tidak ada suasana formal yang kaku.

 

Rombongan duduk bersama Kepala Desa di luar rumah, di tempat sederhana yang disediakan dengan kursi dan meja untuk menerima tamu. Angin desa berembus pelan. Percakapan berlangsung cair. Sesekali diselingi tawa.

 

Namun, di balik suasana santai itu, pembicaraan berlangsung serius.

 

Mereka membicarakan apa yang dapat dilakukan bersama masyarakat selama dua hari berikutnya.

 

Hasilnya, beberapa agenda penting berhasil disepakati.

 

Sabtu pagi sekitar pukul 10.00 Wita, akan dilaksanakan seminar desa tentang kelistrikan. Forum ini diharapkan menjadi ruang diskusi untuk membicarakan persoalan, kebutuhan, dan kondisi kelistrikan yang dihadapi masyarakat Desa Kapoa.

 

Kemudian, Sabtu sore, rombongan bersama masyarakat akan melakukan kegiatan pembersihan di sekitar jembatan penyeberangan Desa Kapoa.

 

Sementara sore hingga malam hari akan menjadi waktu kebersamaan yang lebih santai. Rombongan dapat memanfaatkannya untuk rekreasi, kegiatan penyuluhan mengenai ikan pada malam hari, serta kegiatan kebersamaan seperti membakar ikan dan ayam.

 

Untuk Minggu pagi, kegiatan akan diarahkan pada pembersihan lokasi pipa air yang setiap hari digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air minum.

 

Agenda tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Bakti Sosial tidak dirancang sekadar sebagai kegiatan seremonial. Ada upaya untuk menyentuh kebutuhan nyata masyarakat, meskipun dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Lima Kilogram Beras dan Sebuah Makna yang Lebih Besar

 

Pertemuan kemudian berlanjut dalam suasana yang semakin hangat.

Kepala Desa memberikan suguhan makanan dan minuman kepada rombongan. Bahkan, beliau memberikan beras sebanyak 5 kilogram untuk kebutuhan posko.

Lima kilogram beras mungkin bukan jumlah yang besar jika dihitung secara matematis.

 

Tetapi dalam sebuah perjalanan pengabdian, nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tertera pada timbangan.

 

Itu adalah bentuk penerimaan.

 

Bentuk kepedulian.

 

Bentuk keramahan masyarakat kepada orang-orang yang datang ke desa mereka dengan niat untuk berbagi dan bekerja bersama.

 

Bantuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian sesungguhnya bukanlah hubungan satu arah. Bukan hanya mahasiswa dan dosen yang datang memberikan sesuatu kepada masyarakat.

 

Masyarakat pun memberikan sesuatu kepada mereka: keramahan, pengalaman, kebersamaan, dan pelajaran tentang ketulusan.

 

Ketika Pengabdian Harus Berhadapan dengan Tanggung Jawab Akademik

 

Setelah seluruh pembicaraan selesai, rombongan berpamitan kepada Kepala Desa.

 

Namun, perjalanan hari pertama belum berakhir.

 

Ada satu agenda lain yang menunggu di Kota Baubau.

 

Seminar proposal mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah harus dilaksanakan pada sore hari di kampus. Tanggung jawab pengabdian di Desa Kapoa harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab akademik di kampus.

 

Sekitar pukul 16.00 Wita, rombongan kembali menuju Pelabuhan Kapoa.

 

Katinting kembali menjadi kendaraan yang membawa mereka menyeberangi laut.

Kali ini, arah perjalanan berbalik.

 

Dari Kadatua menuju Baubau.

 

Pulau Kadatua perlahan tertinggal di belakang. Namun, berbagai pengalaman sejak pagi seolah masih ikut dalam perjalanan: rumah kosong yang dibersihkan bersama, air tawar di masjid, makan siang sederhana, keramahan ibu-ibu, percakapan dengan Kepala Desa, hingga agenda dua hari berikutnya yang telah disepakati.

 

Sekitar pukul 16.20 Wita, rombongan tiba di Pelabuhan Topa.

 

Perjalanan laut selesai.

 

Tetapi perjalanan pengabdian belum selesai.

 

Saya bersama La Januru langsung melanjutkan perjalanan menuju kampus untuk melaksanakan seminar proposal mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah.

 

Ada sesuatu yang menarik dari hari pertama itu.

 

Pagi hari, kami menyeberangi laut untuk menemui masyarakat.

 

Sore hari, kami kembali menyeberangi laut untuk menemui mahasiswa.

 

Di antara keduanya, ada satu benang merah yang tidak pernah terputus: tanggung jawab.

 

Tanggung jawab kepada masyarakat melalui pengabdian.

 

Dan tanggung jawab kepada mahasiswa melalui pendidikan.

 

Hari Pertama yang Mengajarkan Banyak Hal

 

Hari pertama Bakti Sosial di Desa Kapoa akhirnya ditutup dengan perjalanan yang panjang.

 

Dari Pelabuhan Topa menuju Kadatua.

 

Dari pelabuhan menuju rumah kosong.

 

Dari rumah menuju masjid.

 

Dari masjid kembali ke posko.

 

Dari posko menuju rumah Kepala Desa.

 

Dari rumah Kepala Desa kembali ke pelabuhan.

 

Dan dari Kadatua kembali ke Baubau untuk memenuhi tugas akademik.

 

Secara fisik, perjalanan itu mungkin melelahkan.

 

Tetapi secara batin, ada banyak hal yang justru terasa menguatkan.

 

Hari pertama mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dengan kegiatan besar dan fasilitas yang lengkap.

 

Kadang-kadang, pengabdian dimulai dari sebuah rumah kosong yang harus dibersihkan.

 

Dari aliran air yang harus diperbaiki.

 

Dari ibu-ibu desa yang datang membantu tanpa diminta.

 

Dari sepiring nasi, mie goreng, dan ikan parende yang disantap bersama.

 

Dari duduk sederhana bersama Kepala Desa untuk mendengarkan persoalan masyarakat.

 

Dan dari keberanian untuk mengatakan bahwa apa yang akan dilakukan selama tiga hari ke depan harus benar-benar memberi arti.

 

Karena itu, FIPH UMU Buton tidak datang ke Desa Kapoa hanya untuk membawa sebuah program.

 

Kami datang untuk mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum bertindak, dan bekerja bersama sebelum mengklaim telah mengabdi.

 

Sebab pengabdian yang sesungguhnya bukan tentang seberapa banyak yang dibawa dari kampus ke desa.

 

Pengabdian adalah tentang seberapa banyak hati yang mampu disentuh, seberapa banyak kebersamaan yang mampu dibangun, dan seberapa nyata manfaat yang dapat ditinggalkan.

 

Jumat, 14 Agustus 2026, baru menjadi halaman pertama.

 

Dua hari berikutnya masih menunggu.

 

Masih ada seminar desa.

 

Masih ada jembatan yang akan dibersihkan.

 

Masih ada air yang menjadi kebutuhan masyarakat.

 

Masih ada ikan yang akan dibicarakan.

 

Masih ada kebersamaan yang akan dibangun.

 

Dan tentu saja, masih ada cerita-cerita lain yang belum sempat dituliskan.

 

Perjalanan baru saja dimulai.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI

PROFIL DARMIN HASIRUN