IDOLA PEMILIH PILKADA (RASIONAL VS EMOSIONAL) *Darmin Hasirun*



Tulisan ini dilatar belakangi oleh pengamatan penulis baik di dunia nyata maupun maya, perdebatan tentang pasangan calon kepala daerah terus mengalir bagaikan aliran air di sungai yang deras, meski saat bulan puasa pun isu-isu miring, negatif, berdebatan yang tidak memberikan kemajuan daerah, black campaign masih selalu ada.

Masing-masing mencoba mempertahankan idolanya, siapa lagi kalau bukan pasangan bakal calon kepala daerahnya. Membela orang-orang yang terzhalimi memang sangatlah diajurkan dalam agama bahkan itulah yang disebut amal sholeh, tetapi membela orang-orang yang bersalah itulah jelas-jelas melanggar aturan agama dan negara.

Penulis menyebut idola atau dalam bahasa inggris adalah idol artinya boneka, patung atau berhala (Abu Fitri dalam bukunya Kamus Lengkap Bahasa Indonesia-Inggris), makna idol ini kemudian dipersonifikasikan menjadi manusia yang menjadi pujaan. Pemberian nama idola kepala daerah ini disebabkan ada kecenderungan orang-orang yang mengkultuskan figur tertentu, mereka bangga-banggakan, memuja dan memuji perilakunya, kebaikannya dibesar-besarkan, dipromosikan, dikampanyekan, bahkan diteriakan sampai orang lain mendengarkan dan mengetahui bahwa dialah yang terbaik dibanding orang lain sebaliknya keburukannya ditutup rapat-rapat hingga tidak tercium oleh siapapun.

Kalau keburukan itu adalah hanya perilaku mencuri pulpen, membohongi anak kecil agar mengikuti perintahnya, kurang peduli dengan kondisi daerah sifat seperti ini masih bisa dimaklumi, tetapi kalau keburukan itu sudah mencuri uang rakyat, melanggar aturan negara, membohongi rakyat, mengkhianati kepercayaan rakyat, tidak peduli atas penderitaan rakyat yang meminta bantuan kepadanya, berpura-pura baik di hadapan rakyat saat Pilkada maka itulah yang menjadi permasalahan besarnya.

Orang-orang yang mengidolakan figur tertentu atas keburukannya terhadap rakyat itulah, seakan menyamakan perilakunya dengan orang-orang zaman jahiliah yang suka menyembah patung (idol) karena mereka menyakini patung itulah yang akan menyelamatkan mereka, membantu mereka, mensejahterakan mereka, memberikan pekerjaan kepada mereka dan segala asumsi yang seolah-olah menyamakan idolanya itu dengan Tuhan yang mereka sembah.

Ada juga orang-orang yang berpikir sangat masuk akal, apabila melihat keburukan figur tersebut secepatnya mengingatkannya agar menempuh jalan kebenaran dan kebaikan, cenderung melihat perilaku, watak, dan pandangannya tentang masa depan masyarakat dan daerahnya. Akhirnya mereka menempatkan hatinya pada figur tersebut.

Oleh karena itu, tulisan ini mencoba memberikan pandangan tentang psikologi pemilih sehingga rekan-rekan pembaca dapat membedakan sesuai kriteria yang ada. Penulis membedakan psikologi pemilih dalam pemilihan kepada daerah ini terbagi atas dua (2) kategori besar yaitu PEMILIH RASIONAL DAN EMOSIONAL. Karakter pemilih ini kadang menimbulkan kontradiktif/ pertentangan pandangan dan pendapat satu dengan yang lain hingga menimbulkan perdebatan, pertengkaran dan konflik fisik.

PEMILIH RASIONAL dalam memilih KEPALA DAERAHNYA mempunyai ciri-ciri memilih berdasarkan:
a.       Tingkat pendidikan dan pengetahuan
b.      Visi misi yang ditawarkan kepada masyarakat
c.       Program kerja
d.      Strategi mengentaskan permasalahan daerah.
e.       Pemberian pencerahan dan ide-ide kreatif dan inovatif.
Sedangkan PEMILIH EMOSIONAL cenderung memilih berdasarkan:
a.       Kedekatan ikatan solidaritas lokal
b.       Tempat tinggal
c.       Kelompok etnis/suku,
d.       Figur ketokohan,
e.       Keturunan pasangan calon/kekeluargaan,
f.        Latar belakang organisasi Partai, LSM, dan organisasi lainnya.

Orang-orang yang memilih berdasarkan rasionalitasnya, mereka tidaklah mendewa-dewakan figur, lantang berbicara yang salah tetap salah dan benar tetap benar, selalu menimbang kemampuan calon kepala daerah terhadap upaya menyelesaikan masalah daerah, memandang kemaslahatan umat, lebih mementingkan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan diri atau golongannya.

Orang-orang yang memilih berdasarkan emosionalitasnya, mereka cenderung suka membangga-banggakan figur yang disukai secara berlebih-lebihan hingga tercipta jiwa-jiwa fanatik buta, tidak mengenal apakah dia salah atau benar tetaplah teguh pendiriannya bahwa hanya dialah yang terbaik, selalu memandang kepentingan pribadinya maupun golongannya.

Sifat emosional inilah yang berpotensi membahayakan dalam proses pemilihan kepala daerah, karena akan menciptakan kegaduhan, keributan dan konflik satu dengan yang lain, demi mempertahankan figur idolanya agar menang dalam PILKADA, mereka akan menjadi provokator baik disadari maupun tidak hanya karena fanatik buta, cenderung menjatuhkan, menghina, fitnah kepada figur lain yang menjadi lawan politiknya.

Pembaca yang budiman, dalam suasana menjelang pemilihan kepala daerah sangatlah diperlukan cara berpikir yang rasional pada kebenaran. Hal ini telah dipraktekan oleh Nabi Muhammad SAW yang bersabda ”Demi Allah SWT, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya”. (HR. Muslim. No.3196)”.

Pesan di atas merupakan bukti cara berpikir tentang kebenaran pada jalan agama yang luhur, jikalau pertimbangannya lebih berdasarkan emosionalitasnya maka nabi lebih memilih membela anaknya, tetapi karena beliau berpikir rasional dan meresapi kebenaran tersebut, maka beliau berani berkata dengan benar dan adil, tindakan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang berpikir dan berbudi pekerti yang luhur.

Jadilah anda sebagai orang-orang yang cenderung lebih berat pada aspek rasionalitasnya, tanpa menghilangkan rasa emosionalitasnya, janganlah engkau menutupi pikiran hanya karena emosi yang menggebu-gebu. Bisa jadi anda tergolong ”orang-orang TERLA...LU....!” (kata Bang Rhoma Irama).

Wassalam..!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI