Episode Ke.1. MENELUSURI JEJAK MISTERI PANTAI WARUMI DI PULAU BATUATAS



Pantai Warumi merupakan pantai yang berada di Desa Liwu Kecamatan Batuatas Kabupaten Buton Selatan, pantai ini jarang sekali dikunjungi oleh warga setempat, bahkan generasi tua pun kadang belum pernah menginjakan kakinya di pantai ini, entah apa gerangan sehingga masyarakat tidak menyempatkan diri melihat kekayaan alam yang satu ini, apakah memang ada misteri di balik itu atau hal-hal lain yang masih ganjil? Untuk lebih jelasnya silahkan baca tulisan ini.

Berawal keberangkatan kami di Ujung, Desa Batuatas Timur pukul 16.00 Wita sore hari, bersama Joko memakai kendaraan Motor Nex Suzuki. Disinilah perjalanan dimulai, dengan kendaraan yang ada kami mendaki bukit yang cukup tinggi, butuh sekitar 10 menit untuk tiba di Baruga Buki. Baruga ini dahulu dijadikan sebagai balai pertemuan warga untuk membicarakan tentang kemaslahatan seluruh masyarakat, dan sekarang ini hanya dijadikan sebagai tempat pesta adat setiap tahunnya.

Setelah tiba di baruga tersebut, maka kamipun memarkir kendaraan dan bersiap-siap berjalan kaki menuju tempat MISTERIUS ITU? Sekitar pukul 16.10 Wita kami mulai berjalan kaki mendaki perbukitan di Katobha Mambulu, tempat ini dianggap sakral oleh masyarakat setempat, dan dipercayai bahwa disinilah Syekh Abdul Wahid beristrahat dan melaksanakan sholat 5 waktu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Kesultanan Buton, tempat ini pula digunakan untuk mengawasi aktivitas yang ada di lautan lepas pada masanya, terlihat disekitar benteng konon ada desa pertama yang didiami oleh masyarakat setempat namanya Kampung Pangilia.

Setibanya disana kamipun mencoba melihat desa-desa dari puncak gunung Pulau Batuatas, terlihat pula Desa Liwu tempat pantai misterius itu, beberapa menit kami memandangi panorama alam disekitar, setelah itu meneruskan perjalanan turun gunung mengikuti jalan pengerasan yang sudah lama dibuat oleh warga. Sekitar 15 menit kami berjalan kaki melintasi jalan bebatuan dan jalan lingkungan, naik gunung dan turun gunung adalah hal yang biasa kita lihat karena hanya dengan menaiki pendakian inilah warga bisa lebih cepat tembus ke desa lainnya, diperjalanan kami menemui sekelompok anak muda yang mengarah berlawanan dengan arah kami (mereka menuruni bukit dan kami mendaki bukit), sempat saling menyapa dan menanyakan tujuan perjalanan mereka, ternyata mereka juga lagi jalan-jalan di desa lain, saya pun dibisik oleh Joko kalau mereka itu sedang mencari gadis-gadis, mungkin pacarnya atau baru mencari pacar, biasanya mereka tidur di desa sebelah dan kadangkala kalau ada acara joget mereka dengan semangatnya datang di desa tersebut..he he “senyumku mendengarkan ucapannya”. Dia pun melanjutkan ceritanya “maklum di desa mereka kurang penduduknya, yang banyak penduduk itu Desa Wacuala, Desa Batuatas Timur dan Desa Tolando Jaya”, sayapun mengangguk-agukan kepala sebagai tanda mengerti dengan tujuan perjalanan mereka.

Sambil bercerita di perjalanan, kami langkahkan kaki menuju ke desa tersebut, Desa Liwu yang kami datangi ini adalah desa yang bertahan paling lama pasca diterapkannya program resettlement yang dilaksanakan sekitar tahun 1962-1964. Program ini diadakan untuk pemukiman kembali atau memindahkan tempat tinggal warga dari gunung atau tempat lainnya yang susah air dan akses jalan ke dataran rendah atau tempat yang mudah diakses.

Sekilas tentang gambaran masa lalu, menurut cerita-cerita dari warga setempat, dulu ada dua desa besar di pulau ini yaitu Desa Buki dan Desa Liwu, masing-masing mempunyai baruga dan pesta adat tersendiri, makanya warga setempat menyebutnya Pesta Baruga Buki yang berada di Desa Buki dan Pesta Baruga Liwu yang berada di Desa Liwu. Program resettlement masa Presiden Soeharto inilah semua warga di Desa Buki turun menyebar di daerah pantai dan membentuk perkampungan baru yang sekarang disebut Desa Batuatas Timur, Desa Wacuala, Desa Tolando Jaya dan Desa Wambongi, sedangkan Desa Liwu sebagian bertahan di gunung dan sisanya turun ke daerah pantai yang sekarang sudah menjadi Desa Batuatas Barat dan Desa Taduasa.

Subtansi pesta adat yang diadakan di dua desa besar ini pada dasarnya sama yaitu sebagai rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta atas nikmat rezeki yang diberikan kepada warga selama satu tahun sehingga diharapkan dengan adanya acara pesta itu hasil panennya semakin melimpah. Menurut informasi dari warga setempat kegiatan pesta adat di Baruga Buki sudah bergeser pemaknaannya, semakin hari semakin menjurus pada hura-hura, bukan murni pada acara adat yang sakral dengan nilai-nilai adat istiadat dan Ketuhanan, hal berbeda dengan Baruga Liwu yang masih kental dengan nilai-nilai adat istiadat warisan nenek moyang mereka.

Bersambung…!






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI