PSIKOLOGI PEMILIH DALAM PILKADA (Pendekatan Memilih Jodoh) *Darmin Hasirun*



Dalam Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA), psikologi pemilih terbagi atas 3 (tiga) kategori yaitu PEMILIH RASIONAL, PEMILIH EMOSIONAL dan PEMILIH GALAU. Karakter pemilih RASIONAL dan EMOSIONAL kadang menimbulkan kontradiktif/ pertentangan pandangan atau pendapat satu dengan yang lain hingga menimbulkan perdebatan, pertengkaran bahkan konflik fisik, sedangkan PEMILIH GALAU masih bingung atau malas tahu dengan calon kepala daerahnya.

Kriteria PEMILIH RASIONAL, memilih calon kepala daerah karena:
a.       Tingkat pendidikan dan pengetahuan calon KADA (Kepala Daerah).
b.      Visi misi yang ditawarkan kepada rakyat.
c.       Program kerja calon KADA.
d.      Strategi mengentaskan permasalahan daerah.
e.       Pemberian pencerahan, ide-ide kreatif dan inovatif.
f.        Gaya pemimpin yang demokratis dan rasional dalam memecahkan masalah daerah
g.      Prestasi calon KADA.

Pemilih rasional cenderung menentukan pilihannya pada aspek rasionalitas program kerja yang lebih menyentuh pada kepentingan rakyat setempat, selalu menimbang kemampuan calon kepala daerah terhadap upaya menyelesaikan masalah daerah, memandang kemaslahatan publik artinya lebih mementingkan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan diri atau golongannya. Pemilih jenis ini memiliki khas yang tidak begitu mementingkan ikatan ideologi kepada Calon Kepala Daerah, dan memiliki orientasi tinggi pada ”policy problem solving” yaitu kebijakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh daerah dan rakyatnya. Hal terpenting bagi pemilih jenis ini adalah apa yang bisa dan yang telah dilakukan oleh calon KADA untuk daerah maupun rakyat. Faktor asal usul, nilai tradisional, budaya, agama dan psikologi memang dipertimbangkan juga tetapi bukan hal yang signifikan. Pemilih jenis ini ibarat memilih jodoh yang penting kualitas kepribadiannya, siapapun dan darimanapun selama sama pandangan hidup maka cintanya akan berlabuh”.

PEMILIH EMOSIONAL biasa pula disebut PEMILIH TRADISIONAL cenderung memilih berdasarkan:
a.       Kedekatan ikatan solidaritas lokal/pertemanan/perkoncoan.
b.       Tempat tinggal/domisili
c.       Kelompok etnis/suku,
d.       Keturunan pasangan calon/kekeluargaan,
e.       Agama/aliran kepercayaan,
f.        Latar belakang organisasi Partai, LSM, dan organisasi lainnya.

Pemilih emosional/tradisional cenderung terikat oleh nilai-nilai primordialisme (kesukuan/etnis) yang tidak akan memilih diluar dari sukunya, bahkan menganggap ”suku/etnisnya adalah harga mati”, suka membangga-banggakan figur yang disukai secara berlebih-lebihan hingga tercipta jiwa-jiwa fanatik, selalu memandang kepentingan pribadinya maupun golongannya. Memiliki orientasi ideologi yang sangat tinggi, dan tidak terlalu melihat kebijakan calon kepala daerah sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan penyelesaian masalah daerah dan rakyat, pemilih emosional sangat mengutamakan kedekatan sosial, budaya, asal usul, paham dan agama. Kebijakan seperti yang berhubungan dengan masalah ekonomi, kesejahteraan, pendidikan dan lain-lain, dianggapnya sebagai prioritas kedua. Pemilih jenis ini sangat mudah dimobilisasi selama masa kampanye, memiliki loyalist yang sangat tinggi. Mereka menganggap apa saja yang dikatakan oleh seorang Calon Kepala Daerah merupakan suatu kebenaran yang tidak bisa ditawar lagi. Loyalitas tinggi merupakan salah satu ciri yang paling kelihatan bagi pemilih jenis ini. Pemilih jenis ini ibarat memilih jodohnya pada satu suku, golongan bahkan keturunannya, dia menganggap diluar dari mereka kurang dipercaya karena beda budaya”. Ada anggapan masih lebih baik memilih jodoh karena agama dibandingkan suku atau keturunannya.

PEMILIH GALAU atau biasa disebut GOLONGAN PUTIH (GOLPUT), cenderung tidak menggunakan hak pilihnya dalam PILKADA, hal ini disebabkan karena tidak adanya kepercayaan kepada calon KADA dalam melakukan perubahan untuk daerah dan rakyat, pesimis dengan kondisi daerah dan rakyat, mereka berkeyakinan siapapun yang menang dalam pemilihan KADA tidak akan berarti bagi daerah dan rakyat, tidak memperdulikan program kerja, platform dan kebijakan calon kepala daerah, selalu skeptis memandang kebijakan atau program kerja yang ditawarkan oleh calon KADA, pemilih jenis ini ibarat ”pemuda takut jatuh cinta, karena trauma putus cinta atau dicampakan oleh kekasihnya”. Bisa jadi ”JOMBLO SEUMUR HIDUP” dong..?!.

Renungan:
Siapapun jodoh anda, harus bisa amanah, menafkahi keluarga dan bertanggung jawab dunia akhirat.
Siapapun kepala daerah anda, harus bisa amanah, mensejahterakan rakyat, dan bertanggung jawab dunia akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL DARMIN HASIRUN

CERITA SEPUTAR KEGIATAN PRAKTIKUM DI DESA BANABUNGI

JEBAKAN SKEMA PONZI